DigiDaily | Jakarta – Keamanan jutaan situs web di seluruh dunia menghadapi ancaman serius setelah ditemukan celah keamanan kritis pada PHP (Hypertext Preprocessor). Teknologi yang digunakan untuk menjalankan berbagai situs web ini diperkirakan menopang sekitar 70 persen situs di dunia.
Melansir BBC, kerentanan tersebut berhasil ditemukan dengan bantuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Temuan ini mendorong pemerintah dan lembaga keamanan siber di berbagai negara untuk segera mengambil tindakan. Pengelola situs web diminta memasang pembaruan keamanan atau menonaktifkan sementara situs mereka jika perbaikan belum bisa dilakukan.
Perusahaan keamanan siber Wiz menyebut celah tersebut sebagai yang “paling parah” yang pernah ditemukan dengan bantuan AI. Sementara itu, OpenAI, perusahaan pengembang teknologi AI yang digunakan dalam proses penemuan tersebut, menyebutnya sebagai “salah satu masalah keamanan paling berdampak dalam beberapa waktu terakhir”.
Apa Itu PHP dan Mengapa Celah Keamanannya Berbahaya?
Bagi sebagian orang, PHP mungkin terdengar asing. Namun, teknologi ini sebenarnya digunakan oleh banyak situs web yang diakses setiap hari, mulai dari toko online, Wikipedia, hingga situs yang menggunakan WordPress.
Secara sederhana, PHP adalah bahasa pemrograman yang membantu situs web menjalankan berbagai fungsi. Teknologi ini memungkinkan situs memproses informasi, mengambil data dari server, hingga menampilkan halaman yang bisa dibaca oleh pengunjung.
“Saat Anda mengunjungi situs web seperti Wikipedia, PHP adalah kode yang mengumpulkan informasi yang Anda butuhkan dan menyajikannya dengan cara yang dapat Anda baca di web,” kata Kepala Eksekutif Gorilla Cyber Security, Paul Spain.
Masalah muncul ketika terdapat celah keamanan dalam sistem PHP. Jika celah tersebut berhasil dimanfaatkan, peretas berpotensi mengambil alih server yang menjalankan situs web tanpa harus melewati proses autentikasi atau pemeriksaan identitas.
Server sendiri merupakan sistem komputer yang menyimpan dan mengelola data serta melayani permintaan dari pengunjung situs web. Jika server berhasil dikuasai, peretas berpotensi mencuri informasi sensitif yang tersimpan di dalamnya.
Paul Spain memperingatkan bahwa kecerdasan buatan dapat membuat serangan siber semacam ini berlangsung lebih mudah dan cepat. Ia memperkirakan kerentanan tersebut dapat berdampak pada “jutaan dan jutaan” situs web.
Peneliti keamanan siber Universitas Adelaide, Jill Slay, juga mengingatkan besarnya risiko apabila celah tersebut disalahgunakan.
“Akan menjadi “bencana” jika peretas atau negara-negara mempersenjatai celah keamanan tersebut dan mengambil data pribadi dari situs web,” kata Slay.
Sejumlah Situs Web di Berbagai Negara Terdampak
Dampak dari peringatan keamanan ini mulai terasa di berbagai negara. Sejumlah layanan digital, mulai dari platform gim hingga portal pemerintahan dan forum online, dilaporkan mengalami gangguan atau dinonaktifkan sebagai langkah pencegahan.
Wikimedia, organisasi yang menaungi Wikipedia, bahkan menonaktifkan sejumlah sistemnya untuk mengurangi risiko keamanan.
Di Eropa, pemerintah Finlandia, Dewan Kota Edinburgh, dan BBC dilaporkan menonaktifkan sejumlah situs atau halaman web mereka. Badan keamanan siber Belanda juga menarik situs webnya untuk sementara.
Sejumlah organisasi publik di Skotlandia, termasuk pemerintah kota dan badan kesehatan, turut menonaktifkan situs mereka sebagai langkah antisipasi.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa ancaman keamanan siber tidak hanya menyasar perusahaan teknologi besar. Organisasi publik dan pengelola situs dengan sumber daya terbatas juga berpotensi menghadapi risiko yang sama.
Bahkan, situs yang jarang mendapatkan pembaruan keamanan bisa menjadi sasaran yang lebih rentan. Hal ini terutama berlaku bagi organisasi kecil yang tidak memiliki tim keamanan siber khusus atau anggaran memadai untuk mengelola sistem mereka.
Berbagai lembaga keamanan pun mengeluarkan peringatan kepada pengelola situs web. Di antaranya adalah Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA), Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris, serta lembaga terkait di Uni Eropa dan Australia.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi juga meminta masyarakat memeriksa apakah situs web yang dapat diakses publik menggunakan PHP.
“Jika sulit untuk segera menerapkan patch perbaikan, menangguhkan sementara situs web dan tindakan serupa dapat dianggap sebagai cara efektif untuk mengurangi risiko,” katanya.
Patch merupakan pembaruan perangkat lunak yang dirancang untuk memperbaiki kesalahan atau menutup celah keamanan. Jika pembaruan belum bisa dipasang, menonaktifkan situs untuk sementara dapat membantu mencegah peretas memanfaatkan kerentanan tersebut.
AI Membantu Menemukan Celah yang Selama Ini Tersembunyi
Kerentanan PHP ini ditemukan oleh para peneliti dari perusahaan keamanan siber Calif dan Wiz dengan bantuan alat AI canggih. Teknologi tersebut mampu menganalisis kode pemrograman dan mendeteksi kesalahan dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan metode pemeriksaan konvensional.
Dalam pengembangan perangkat lunak, kode pemrograman bisa terdiri dari jutaan baris. Memeriksa seluruh kode untuk menemukan potensi masalah keamanan bukanlah pekerjaan mudah, bahkan bagi para ahli.
AI dapat membantu mempercepat proses tersebut dengan mengidentifikasi bagian kode yang berpotensi bermasalah. Meski begitu, hasil analisis tetap perlu ditinjau dan ditindaklanjuti oleh para pengembang serta ahli keamanan.
OpenAI juga menyatakan telah merilis sebuah program untuk memeriksa keamanan platform PHP.
Menurut Ryan Ko dari Pusat Penelitian Siber Universitas Queensland, sebagian kerentanan perangkat lunak berasal dari sistem lama yang pada awalnya lebih berfokus pada fungsi daripada keamanan.
“Banyak dari kelemahan ini berasal dari cara perangkat lunak dibangun di masa lalu, yang dibangun untuk fungsionalitas dan bukan dengan mempertimbangkan keamanan,” kata Ko.
Rincian penemuan kerentanan ini kemudian bocor secara online pada pekan yang sama. Situasi tersebut mendorong pengembang PHP untuk segera mengumumkan celah keamanan dan menjelaskan besarnya potensi dampak yang ditimbulkan.
Peneliti keamanan siber UNSW Sydney, Salil Kanhere, menjelaskan bahwa kompleksitas perangkat lunak modern membuat sejumlah celah keamanan bisa bertahan selama bertahun-tahun tanpa terdeteksi.
“Perangkat lunak modern sangat kompleks, dan beberapa kerentanan dapat tetap tidak terdeteksi selama bertahun-tahun,” kata Kanhere.
OpenAI juga menyoroti dua sisi penggunaan AI dalam keamanan siber. Di satu sisi, AI dapat membantu peneliti menemukan kelemahan yang sebelumnya sulit diketahui. Namun, di sisi lain, teknologi serupa juga berpotensi membantu peretas mengembangkan alat serangan dengan lebih cepat.
Dalam sebuah unggahan blog, OpenAI menyebut insiden ini “menyoroti bagaimana AI dapat mengungkap celah keamanan” tetapi juga bagaimana AI dapat “membantu penyerang mengembangkan alat dan eksploitasi ofensif dengan cepat,”.
Kanhere menegaskan bahwa permasalahan mendasar dalam perangkat lunak tersebut sebenarnya sudah ada sejak lama. Hal baru yang muncul adalah kemampuan teknologi untuk menemukannya dengan lebih cepat.
“Masalah mendasar tersebut bukanlah hal baru; yang berubah adalah kemampuan kita untuk menemukannya,” kata Kanhere.
Pengelola Situs Diminta Segera Memperbarui PHP
Untuk mengurangi risiko serangan, pengelola situs web diminta segera menggunakan versi PHP terbaru yang telah dilengkapi perbaikan keamanan.
Pada Rabu, pengembang PHP merilis patch untuk menutup kerentanan yang telah berada dalam perangkat lunak tersebut selama bertahun-tahun.
“Seluruh pengguna PHP sangat disarankan untuk segera memperbarui,” kata perusahaan itu.
Pembaruan ini penting karena situs yang masih menggunakan versi rentan berpotensi menjadi sasaran serangan. Pengelola situs perlu memastikan versi PHP yang digunakan, memeriksa pembaruan yang tersedia, serta mengikuti panduan keamanan resmi sebelum melakukan perubahan pada sistem.
Kanhere memperkirakan upaya untuk mengeksploitasi kerentanan ini berpotensi meningkat dalam beberapa minggu mendatang, terutama setelah rincian teknisnya dipublikasikan secara online.
Menurutnya, tanggung jawab utama untuk mengamankan sistem berada pada operator situs web. Meski demikian, pengguna internet juga perlu memperhatikan pemberitahuan keamanan dari layanan yang mereka gunakan, termasuk permintaan untuk mengganti kata sandi apabila memang diperlukan.
Pengguna juga harus berhati-hati terhadap pesan phishing yang memanfaatkan kabar mengenai kerentanan PHP. Phishing merupakan upaya penipuan yang biasanya dilakukan melalui email, pesan singkat, atau situs palsu untuk mencuri informasi seperti kata sandi dan data pribadi.
Karena itu, jangan langsung mengeklik tautan dari pesan yang mengatasnamakan layanan digital atau meminta informasi sensitif. Pastikan pemberitahuan tersebut berasal dari saluran resmi dan akses situs melalui alamat yang sudah dikenal.
Kesimpulan
Temuan celah keamanan kritis pada PHP menjadi pengingat bahwa teknologi yang digunakan oleh banyak situs web tetap memiliki risiko, termasuk ketika telah beroperasi selama bertahun-tahun. Bantuan AI memungkinkan peneliti menemukan kerentanan dengan lebih cepat, tetapi teknologi yang sama juga berpotensi dimanfaatkan untuk mempercepat serangan siber. Oleh karena itu, pengelola situs perlu segera memasang pembaruan keamanan yang sesuai, sedangkan pengguna internet harus tetap waspada terhadap pencurian data dan penipuan digital. Langkah pencegahan dari pengelola maupun pengguna menjadi penting untuk mengurangi dampak ancaman keamanan siber.










